Barang kali, bagian tersulit di hidup ini adalah fase menyadari. Salah satu adagium yang saya ingat dari kakak kelas saya adalah "SADARILAH!". Hanya satu kata, tetapi tak hampa makna. Ya, sadarilah. Mungkin, kita bisa sejenak mundur untuk melihat masalah kita hari ini, bisa kita ketahui salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran, kurangnya empati dalam diri. Sehingga setiap orang keluar jalur semaunya. Andai kita merenungi sejenak untuk menyadari semua hal yang telah kita miliki, semua yang kita punya, mungkin kita tak akan "kaget" dengan segala masalah yang datang hari ini, maupun esok hari.
Kenapa ada orang yang bayar mahal-mahal untuk masuk kuliah, tetapi setelah diterima malah malas-malasan? Bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah karena dia 'lupa menyadari' bahwa diluar sana, banyak orang yang ingin menikmati bangku studi seperti dia, rela menggadaikan waktu istirahatnya demi mencari uang untuk biaya pendidikannya. Dia lupa, kalau orang tuanya mencari biaya sampai -kalau istilah sundanya- tisuksruk tidungdung, hanya agar anaknya fokus belajar.
Juga, kenapa banyak orang baru mau kerja keras setelah dia masuk ke fase Quarter Life Crisis(Krisis seperempat abad: keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup dll)? Lagi-lagi, alasannya karena dia baru "menyadari" bahwa ternyata banyak tuntutan hidup yang harus ditanggung sendiri, jajan harus pake duit sendiri, beli ini-itu harus hasil jerih payah sendiri, biaya hidup ditanggung sendiri. Pokoknya tuntutan hidupnya 'harus sendiri'.
"Oh, iya ya. Saya itu punya ini, nggak punya itu. Suka ini, nggak suka itu. Cocok dengan ini, nggak cocok dengan itu." Pokoknya cari "Oh iya, ya!"-mu sebanyak mungkin, agar kita mudah menyadari .
Untuk itu, sebelum masa itu datang, yang harus kita siapkan adalah bekal menuju masa itu tiba. Seperti menambah pengetahuan,